Cerita dari Mereka yang Hidup dari Bisnis Rongsok…

Mendengar kata ‘rongsok’ kita dapat menyimpulkan dengan barang bekas yang sudah dibuang dan tidak dapat dimanfaatkan lagi, namun bagi pemulung dan pengusaha barang rongsok, rongsokan dapat menjadi sebuah penghasilan yang dapat diperjualbelikan dan menjanjikan. Karena yang aku tahu setiap orang yang mempunyai usaha seperti ini, mereka dapat mencukupi biaya hidupnya dan tidak sedikit dari mereka dapat menunaikan ibadah haji, seperti ibuku.

Rongsokan bekas kaleng minuman

Rongsokan bekas kaleng minuman

Seorang pemulung mencari rongsok untuk dijual pada pengusaha yang membeli barang-barang rongsok tersebut, kemudian dijual lagi ke pabrik atau lapak-lapak yang lebih besar, namun tidak semua rongsok dapat dijual dan didaurulang lagi. Kebetulan orang tuaku seorang pengusaha rongsok, dan rumahku yang berada di Jalan Penganten Ali, RT17/RW 06, Kelurahan Rambutan, Jakarta Timur menjadi lapak barang rongsokan. Jadi aku sedikit tahu rongsok apa saja yang dapat diperjualbelikan. Rongsok tersebut seperti: besi, logam (almunium, kuningan, tembaga, kuali, tebel, dan babet), seng, kertas (bekas kerdus, buku-buku bekas), plastik (plastik kresek hitam, bekas tempat air mineral, paralon).

 

Rongsokan stainless

Rongsokan stainless

Kabel Alumunium

Kabel Alumunium

Hampir setiap hari pemulung datang untuk menjual rongsoknya ke rumahku, sehingga rumahku penuh dengan rongsok-rongsok dan terkadang jika aku libur kuliah seperti saat ini atau bila aku kuliah siang, aku menyempatkan diri membantu membereskan ronsok-rongsok atau mengupas kabel untuk diambil tembaga dan almuniumnya. Orangtuaku membeli rongsok-rongsok tersebut dari pemulung, orang yang menyimpan rongsok, pabrik dan terkadang dari rumah sakit, kemudian menjualnya ke lapak yang lebih besar. Kenapa tidak langsung menjualnya ke pabrik, ya?

Dari Rongsok Aku Meraup Rupiah3

Alasannya ternyata karena jika menjual langsung ke pabrik peleburan besi dan logam harus sekaligus banyak, minimal satu truk. Jika jumlahnya sedikit dan dipaksakan menjual langsung ke pabrik, akan merugi karena biaya perjalanan cukup besar, sedangkan harga barang murah (untuk jenis besi). Biasanya yang menjual langsung ke pabrik adalah pengusaha yang lebih besar. Mereka dapat menjual besi dan logam hingga dua truk besar. Sedangkan jenis tembaga dan almunium tidak dijual langsung ke pabrik karena orang yang menjual barang-barang jenis ini sedikit. Sepengetahuanku mereka menjualnya ke peleburan logam yang berada di daerah Pulo Gadung Jakarta Timur, karena dulu aku pernah mengantarkan barang di pabrik tersebut. Setelah rongsok dibeli dari pemulung, tidak langsung dijual, namun harus dipilah-pilah mana yang harganya murah dan mana yang harganya mahal. seperti halnya tembaga yang merupakan barang paling mahal dibandingkan besi dan plastik.

Seorang pekerja sedang mengupas kabel

Seorang pekerja sedang mengupas kabel

Barang-barang rongsok yang dipilih, harus dikumpulkan dengan sesama jenisnya, seperti tembaga dengan tembaga. Tembaga pun dibagi menjadi bermacam-macam jenisnya seperti Tembaga Merah (TM), Tembaga Bakar (TB) dan Tembaga Dinamo.

Tembaga Merah (TM)

Tembaga Merah (TM)

Tembaga Bakar (TB)

Tembaga Bakar (TB)

Biasanya Tembaga Merah berasal dari kabel-kabel besar yang sudah dikupas, namun terkadanag kabel-kabel kecil harus dibakar terlebih dahulu, karena bentuknya yang kecil sehingga susah dikupas, sedangkan kabel-kabel ini setelah dibakar akan menjadi jenis Tembaga Bakar (TB) dan Tembaga Dinamo, biasanya dari bekas AC. Alumunium pun terbagi menjadi beberapa jenis seperti almunium siku, plat, panci, tuis (dari kabel), obset, rongsok (bekas kaleng minuman ringan), kuningan dan stainless.

Harga-harga barang;

1. Tembaga merah (TM) = Rp.54.000,-

2. Tembaga bakar (TB) = Rp.50.000,-

3. Tembaga dinamo = Rp.48.000,-

4. Plat = Rp.11.000,-

5. Tuis = Rp.9.000,-

6. Obset = Rp.13.500,-

7. Rongsok = Rp.9.500,-

8. Besi = Rp.2.800,-

9. Kawat / paku = Rp.2000,-

10. Plastik = Rp.1000,-

11. Kardus = Rp.700,-

12. Kuningan = Rp.30.000,-

13. Stainless = Rp.13.000,-

14. Siku = Rp.14.000,-

Harga-harga tersebut adalah harga baru yang sudah turun. Dari jenis tembaga turun sekitar Rp.4.000,-an, almunium turun Rp.500,-  dan besi turun Rp.300,-. Walaupun demikian, harga tembaga dan barang lainnya tidak bisa stabil, terkadang naik dan tiba-tiba turun dengan drastis. Turun naiknya barang tidak berimbang, biasanya naiknya hanya Rp.1000,- untuk jenis tembaga dan Rp.100,- untuk jenis besi dan almunium. Seperti halnya pada saat menjelang lebaran tahun 2008, harga Tembaga Merah berkisar sampai Rp.68.000,-/kg sedang besi waktu itu sampai Rp.5000-an/kg, namun setelah lebaran harga-harga turun. Harga Tembaga Merah (TM) yang sebelum lebaran biasa mencapai Rp.68.000,- turun menjadi  sekitar Rp.40.000,-. Sampai sekarang pun harga-harga tembaga dan logam tidak pernah stabil.

Halaman samping rumahku menjadi tempat pembakaran barang rongsok

Diceritrakan oleh : 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: